“Startup” Pilih Malaikat Bisnis Ketimbang Bursa

Otoritas bursa efek Indonesia sedang gigih menggaet calon-calon emiten dari usaha rintisan atau startup. Terutama yang bervaluasi di atas 1 miliar Dollar Amerika Serikat alias unicorn.



Tokopedia dan Bukalapak adalah dua di antara unicorn yang pernah berniat mencari dana di pasar modal.

Tetapi yang jadi pertanyaan adalah, bagaimana melakukan valuasi terhadap saham usaha rintisan yang sebagian besar asetnya pebisnis plasma?

Aset berupa pengusaha plasma inilah yang sulit diukur karena serba luas.

Perusahaan Milik Tommy Soeharto Luncurkan Ritel Format Kecil

Bisnis.com, JAKARTA — Pasar properti ritel di seluruh Indonesia sedang waswas lantaran harus menyesuaikan diri, salah satunya dengan perubahan gaya hidup konsumen dari luar jaringan ke dalam jaringan. Hal ini membuat pengembang harus muncul dengan konsep yang beda.

Ketika melihat kondisi tersebut, PT Berkarya Makmur Sejahtera kembali meluncurkan produk properti ritel berkonsep formal kecil (small format) di Jatibening, Bekasi, Jawa Barat. Konsep itu disebut berbeda dengan ritel lainnya lantaran ada penggabungan antara luring (offline) dan daring (online).

Lanjutkan membaca “Perusahaan Milik Tommy Soeharto Luncurkan Ritel Format Kecil”

Presiden Beri Kewenangan Penuh Nadiem Ubah Kurikulum Pendidikan

JAKARTA, KOMPAS.com — Sekretaris Kabinet Pramono Anung menyebut, Presiden Joko Widodo mengharapkan ada perubahan drastis dalam sistem pendidikan di Indonesia. Oleh karena itu, Presiden memberikan kewenangan penuh kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim untuk mengubah paradigma dan kurikulum pendidikan. “Pak Nadiem diberikan kewenangan penuh oleh Presiden. Bahkan dalam rapat terbatas hal itu disampaikan beliau untuk mengubah paradigma kurikulum, tata cara belajar-mengajar,” kata Pramono di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (25/11/2019). Hal ini disampaikan Pramono menanggapi pidato Nadiem di Hari Guru Nasional. Baca juga: Upacara Hari Guru Nasional, Nadiem Bicara Soal Merdeka Belajar dan Guru Penggerak Dalam pidato yang naskahnya sempat viral itu, Nadiem meminta para guru untuk melakukan perubahan dalam mengajar tanpa menunggu aba-aba atau perintah. Nadiem meminta guru mengajak para siswa berdiskusi. Bahkan ia meminta guru memberi kesempatan pada murid untuk mengajar di kelas. Menurut Pramono, Presiden akan memberi dukungan penuh kepada Nadiem jika hendak mengubah kurikulum yang memungkinkan perubahan-perubahan tersebut. “Sehingga memberikan kegembiraan kepada siswa untuk belajar dan tidak dijejali dengan tugas-tugas yang terlalu berlebihan,” ujar politisi PDI-P ini. Baca juga: Berharap Realisasi dari Pidato Hari Guru Nasional Nadiem Makarim… Bahkan, Pramono menambahkan, Presiden Jokowi sejak awal memercayakan pos Mendikbud kepada Nadiem agar melakukan perubahan-perubahan itu. Meski tak mempunyai latar belakang di bidang pendidikan, Nadiem yang merupakan pendiri perusahaan rintisan Gojek diyakini bisa membawa inovasi bagi pendidikan di Indonesia. “Karena sistem pendidikan kita dianggap masih jauh ketinggalan zaman dan tidak beradaptasi dengan perubahan lingkungan, terutama dengan era digital ini,” kata dia.

sumber : https://nasional.kompas.com/read/2019/11/25/14370781/presiden-beri-kewenangan-penuh-nadiem-ubah-kurikulum-pendidikan

Nadiem: Guru Harus Tahu Prinsip Pendidikan untuk Disabilitas

KOMPAS.com – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim meminta seluruh guru untuk memahami prinsip-prinsip dasar pendidikan kebutuhan khusus. Menurutnya, pendidikan khusus menjadi salah satu isu penting yang perlu diperhatikan. “Menurut saya secara pribadi, hampir semua guru harus mengetahui prinsip-prinsip dasar pendidikan yang untuk kebutuhan khusus,” ujar Nadiem seusai Upacara Hari Guru Nasional 2019 di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, Senin (25/11/2019). Menurutnya, guru-guru di sekolah manapun akan bisa menangangi murid berkebutuhan khusus bila guru-guru mengetahui prinsip-prinsip dasar pendidikan kebutuhan khusus. “Ini yang harus jadi bagian kurikulum. Di semua kurikulum guru, keluar (prinsip pendidikan khusus,” ujar Nadiem. Baca juga: Hari Guru Nasional, 4 Inspirasi Penguatan Literasi Dasar di Kelas Nadiem berbicara tentang pendidikan khusus dalam kaitan keberadaan guru penggerak di sekolah-sekolah. Menurutnya, keberadaan guru penggerak juga perlu hadir di sekolah luar biasa (SLB). Guru Penggerak Nadeim mengatakan dua point penting dalam pendidikan di Indonesia adalah merdeka belajar dan guru penggerak. Ia mengatakan dampak dari reformasi pendidikan dari kurikulum, kebijakan, maupun anggaran yang dilakukan pemerintah akan berdampak sangat kecil dibandingkan gerakan guru penggerak. Guru penggerak menurutnya bisa dijadikan gerakan di masing-masing sekolah. “Guru penggerak ini beda dari yang lain dan saya yakin di semua unit pendidikan, baik di sekolah maupun di universitas ada paling tidak minimal satu guru penggerak,” ujarnya. Nadiem menyebutkan guru penggerak berbeda dengan guru-guru lainnya. Guru penggerak baginya adalah guru yang mengutamakan murid-murid lebih dari apapun bahkan dari karir guru itu sendiri. Keutamaan itu juga berlaku untuk murid dan pembelajaran murid. “Dan karena itu dia akan mengambil tindakan tindakan tanpa disuruh tanpa diperintahkan untuk melakukan yang terbaik bagi muridnya,” tambah Nadiem.

sumber : https://edukasi.kompas.com/read/2019/11/25/20165221/nadiem-guru-harus-tahu-prinsip-pendidikan-untuk-disabilitas

Guru dan Tantangan Pendidikan Karakter

GURU, adalah sosok yang “digugu” dan “ditiru”. Begitu filosofi yang sering kita dengar. Artinya, guru memegang peran yang sangat penting dalam soal mendidik dan memberikan pengetahuan serta keteladanan kepada muridnya. Lalu siapa saja yang bisa menjadi guru? Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional, menyampaikan, “Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah.” Orangtua, kakak, adik, saudara, tetangga, rekan kerja, atau siapa saja yang memberikan pengetahuan baru dan memiliki keteladanan bisa kita anggap sebagai guru. Setiap rumah menjadi sekolah. Di rumah, orang tua kita mulai mengenalkan pendidikan termasuk pendidikan karakter. Orang tua adalah guru pertama bagi anaknya. Keluarga menjadi tempat pertama bagi setiap individu membentuk karakternya, tempat segala kebiasaan dan budaya ditanamkan dalam lingkup terkecil masyarakat yang akan melekat dan dibawa oleh anak-anak dalam kehidupannya. Saat ini, fokus pembangunan sumber daya manusia (SDM) Kemendikbud salah satunya adalah pendidikan karakter yang menjadi prioritas pada jenjang pendidikan dasar, serta penyiapan generasi yang cakap dan terampil melalui jenjang pendidikan menengah dan pendidikan masyarakat. Ini selaras dengan visi Presiden, agar pembangunan karakter bangsa, budi pekerti, sopan santun, nilai-nilai etika, dan agama menjadi perhatian dunia pendidikan ke depan dan dirayakan dengan gembira. Hasil pendidikan saat ini Lalu apa hasil pendidikan kita saat ini? Kita masih sering melihat peristiwa anak-anak sekolah dan orang-orang dewasa membuang sampah sembarangan, tidak mengerti cara mengantre, bersikap acuh tak acuh, bahkan kurang hormat terhadap orangtua dan guru, kurangnya sensitivitas, dan perkelahian antarwarga atau bahkan pelajar, perundungan, bahkan juga sikap-sikap intoleran di sekolah dan di masyarakat. Kita juga menyaksikan perubahan perilaku zaman milenial yang mengarah pada gejala berkurangnya sosialisai dan interaksi antarindividu secara langsung, serta adanya kecenderungan menginginkan segala hal secara instan, padahal segala sesuatu bisa dicapai hanya melalui proses, yaitu melakukan kerja keras, disiplin, fokus, dan penuh kesabaran serta tidak mudah menyerah. Kompetensi guru Fokus persoalan karakter tidak melulu pada siswa tapi kita perlu merenungkan sudahkah guru-guru memiliki karakter yang baik, seperti yang diharapkan pada anak didik? Dalam kenyataannya, terkait dengan guru, kita masih menemukan banyak persoalan dan tantangan yang tidak ringan. Kunci utama keberhasilan pendidikan karakter di sekolah formal adalah kompetensi guru dari tingkat PAUD sampai pendidikan menengah dan atas. Guru di sekolah formal diharuskan memiliki berbagai kompetensi di antaranya pedagogik untuk bisa membawa kelas secara dinamis, komunikatif, dan mampu mengatasi keberagaman siswa dalam kelas dengan mendisain program pembelajaran yang sesuai.

sumber : https://edukasi.kompas.com/read/2019/11/28/17440771/guru-dan-tantangan-pendidikan-karakter

Simposium Guru: Lakukan Perubahan Agar Tercipta Inovasi Pembelajaran

Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan, Direktorat Pembinaan Guru Pendidikan Dasar (Dit PG Dikdas), Kemendikbud menggelar Simposium Guru Pendidikan Dasar Tahun 2019 yang diikuti 269 guru sekolah dasar dan menengah dari berbagai daerah di Indonesia. Simposium dibuka oleh Kepala Subdirektorat Kesejahteraan, Penghargaan, dan Perlindungan Pendidikan Dasar, Eddy Tejo Prakoso di Jakarta, Kamis (28/11/2019). Dalam sambutan pembukaan simposium, Eddy Tejo mengatakan, era 4.0 saat ini harus didukung sumber daya manusia yang kompeten. “Sebagai guru mau tidak mau harus menerima teknologi,” ujarnya. Eddy Tejo juga mengajak seluruh guru pendidikan dasar agar terus meningkatkan kompetensinya dan terus mengikuti perkembangan teknologi informasi untuk mengimbangi mudahnya siswa mengakses informasi melalui gawai saat di luar sekolah.

“Anak sekarang lebih banyak waktu mengakses informasi dari HP nya ketimbang gurunya. Oleh karena itu guru juga harus punya kemampuan menyesuaikan zaman. Harus bisa memberikan solusi terhadap perubahan sesuai zamannya,” tutur Eddy Tejo. Untuk mengikuti perkembangan, menurut Eddy Tejo, guru harus terus melakukan perubahan seiring kebutuhan zaman. “Inovasi hanya bagian perubahan. Guru ke depan, harus melakukan perubahan sekecil apapun agar tercipta inovasi yang bisa membuat pendidikan di kelas makin disukai siswa. Guru dan siswa harus memiliki kesesuaian agar tercipta pendidikan yang lebih baik,” ujar Eddy Tejo. Selain itu Eddy Tejo mengingatkan inovasi yang dilakukan guru adalah melakukan perubahan ke arah lebih baik sebagai pendamping dari acuan pembelajaran yang sudah ada. Inovasi terkait juga dengan inisiatif dan kreativitas. Paling penting inovasi harus dipraktikkan di kelas. Salah satu peserta simposium, Hendra Hendayana, guru kelas V SD Negeri Sukamulya, Majalaya Kabupaten Bandung, mengatakan, apa yang diberikan dalam simposium ini akan ia praktikkan dalam kegiatan belajar di kelas. “Pasti akan ada perubahan setelah mendapatkan ilmu dari simposium. Minimal perubahan dimasukkan saat membuat soal,” ucap Hendra. Karena itu Hendra sangat antusias mengikuti simposium tersebut. Ia berharap banyak hal yang bisa diambil dari simposium. Selain itu mendapatkan ilmu tentang High Order Thinking Skills (HOTS) yang dihadirkan dalam materi simposium menjadi hal yang paling ditunggu Hendra. Dirinya berharap pemateri tidak sekadar memberi teori tetapi juga bagaimana menerapkan dalam pembelajaran. “Acara seperti ini sangat membantu para guru untuk mendapatkan ilmu-ilmu untuk dipraktikkan saat belajar mengajar di kelas,” ujar Hendra. Harapan juga disampaikan Eddy Tejo yang menuturkan, setelah mengikuti simposium ini guru dapat secepatnya melakukan perubahan, punya kreativitas, inovatif, mengevaluasi pembelajaran dan buat program berikutnya. Jika guru sudah melaksanakannya maka peserta didiknya akan meraih nilai akademik yang baik dan punya prestasi non-akademik. “Guru hebat, murid senang dan berprestasi,” 

sumber : https://biz.kompas.com/read/2019/11/29/105323728/simposium-guru-lakukan-perubahan-agar-tercipta-inovasi-pembelajaran?_ga=2.15151670.1094117547.1575342497-1801638289.1571598158

Mahfud MD Minta Perguruan Tinggi Tak Lupakan Pendidikan Karakter

JAKARTA, KOMPAS.com – Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko-Polhukam) Mahfud MD meminta perguruan tinggi tidak kehilangan jati diri meski terus mengikuti tuntutan perkembangan zaman. Jati diri yang dimaksud adalah pendidikan watak atau pendidikan karakter. Baca juga: Kemenparekraf Ajak Perguruan Tinggi Bahas Ekonomi Kreatif Nasional “Mudah-mudahan, semua perguruan tinggi di Indonesia menjadi mampu menyesuaikan diri dengan tuntutan situasi tanpa kehilangan jati diri. Tuntutan situasi itu sekarang orang sering menyebutnya revolusi industri 4.0,” ujar Mahfud di Auditorium Universitas Trisakti, Jakarta Barat, Jumat (29/11/2019). Menurut Mahfud, tuntutan tersebut memiliki tantangan yang besar. Revolusi industri 4.0, kata Mahfud, memberikan bahan yang cukup bagi pengembangan otak, keilmuan, dan kecerdasan. “Akan tetapi, di situ belum tersedia perangkat-perangkat untuk menjaga dan membangun watak. Padahal, negara ini didirikan untuk mencerdaskan otak dan watak,” tutur Mahfud menjelaskan. Dirinya lantas mengingatkan pentingnya pendidikan yang berlandaskan karakter. Dengan pendidikan karakter atau pendidikan watak, akan lahir manusia Indonesia yang bertanggung jawab kepada bangsa dan negara. Mahfud mengungkapkan, jika hanya memiliki ilmu, seseorang cuma bisa pintar tanpa mempunyai rasa nasionalisme yang kuat. “Tak punya rasa ingin memiliki dan memelihara bangsa dan negara. Bahkan (cenderung) destruktif terhadap kehidupan. Akan tetapi, para pembuat UUD 1945 sudah menyatakan tujuan pendidikan kita bukan mencerdaskan otak, tapi mencerdaskan kehidupan, jasmaniah, rohaniah, dibangun di situ,” jelas Mahfud. Sebelumnya, pada acara yang sama, Mahfud menyinggung perihal tindak pidana korupsi. Menurut Mahfud, perguruan tinggi seolah menjadi terdakwa atas berbagai persoalan bangsa Indonesia. “Sekarang ini ada persoalan apakah pesan tentang filosofi pendidikan itu berjalan di Indonesia. Terbukti perguruan tinggi ini menjadi tedakwa dari kemelut republik ini, korupsi merajalela, ketidakadilan, kemsikinan, kesenjangan sosial, tidak meratanya pendidikan, apa sebabnya itu? Korupsi,” ujar Mahfud. Baca juga: Mahfud MD: Perguruan Tinggi Seolah Jadi Terdakwa atas Kemelut Negeri Menurut Mahfud, maraknya korupsi di Indonesia tak terlepas dari peran perguruan tinggi. Sebab, jabatan penting di Indonesia diduduki lulusan-lulusan perguruan tinggi. “Sudah dikelola oleh perguruan tinggi kenapa masih banyak koruptor, kenapa penegak hukumnya lemah? Kenapa pengalola negara tidak beres? Lalu apa sebabnya? Pasti perguruan tinggi yang salah,” kata dia lagi.

sumber : https://nasional.kompas.com/read/2019/11/29/16110021/mahfud-md-minta-perguruan-tinggi-tak-lupakan-pendidikan-karakter

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai